未知の物語
Machigatte no STORY. Another side.
It's still, an unknown story of me.
Machigatte no STORY. Another side.
It's still, an unknown story of me.
Hari ini aku mau ngobrol tentang gambar.
Ya, gambar.
Sejak kapan ya aku suka ngegambar?
Dulu, pas SD, mungkin menggambar adalah pelajaran yang paling aku benci, setelah matematika. Alasannya konyol, karena gambaranku jelek. Oh well, really the absurd thingy. Matematika, aku benci karena aku paling males ngitung, yang anehnya, nilai matematikaku paling sempurna setelah IPA dan IPS. Dan Bahasa Inggris.
Really, to be honest, I was the one who always wished there’s no thing like art in the world.
Lalu apa ya, yang bikin aku yang sekarang jadi suka ngegambar?
SMP, kelas 3 kayaknya, mulai sering ngegambar. SMA juga. Keterusan sampai sekarang. Mungkin karena lack of creativity atau emang dari sononya aku ga punya bakat jadi gambaranku sampai sekarang tetep gitu-gitu aja?
Nothing changed, atau emang akunya terlalu terpaku sama standard? Then, what kind of standard that I use again? Tipe-tipe pro, kayak mangaka atau ilustrator yang emang udah jadi makanan sehari-hari? Atau someone who always connected to pen, pencil, other drawing tools, someone geek like Niizuma Eiji? Nah, It can’t be like that. Aku adalah aku, they’re not the same to me. We always need a standard for something, but take a you-can-approach standard, either way you lost.
So, what should I use? More importantly, what should I think so I can see through way to have a proud of my drawing(s)?
Satu hal. Aku menggambar untuk kepuasan, untuk kesenangan. Not aiming to be pro, or make someone happy either. Aku nggak mau hal konyol dan imajinatif seperti itu. Like I said, I am me. An egoistic girl, to put it simply. Aku cuma ingin menyenangkan mata aku yang pengen ngeliat apa yang diliat sama hatiku, cuma itu aja.
Tapi, saat aku udah punya proud di gambar aku, aku selalu, how should it say, membuang dan meninggalkannya begitu saja. No, I wasn’t purposely to do that. Rasanya seperti, yah, kau meninggalkannya begitu saja. Kau lupa dimana harus kau simpan dan bagaimana kau memperlakukannya.
Mungkin karena aku benci style gambar aku.
Mungkin karena aku lebih suka pada gambar buatan orang lain.
Mungkin karena aku ga punya bakat di bidang itu.
No, it’s all wrong.
I, simply, don’t have any confidence.
Aku ga punya rasa percaya diri yang cukup untuk sekedar menanyakan, “gimana gambaranku?”
Aku ga bisa, err, belum bisa menerima celaan mungkin? Padahal, jika itu baik, aku nggak akan menolaknya.
Ahh, gambaranku yang jelek. Masih sudikah kalian dianggap olehku?